Jangan Takut Lepas Dari Belenggu Social Media

Mar 06, 2018 by carmelw

Kehadiran internet di masa kini memang akan mempermudah orang untuk saling terhubung satu sama lain tanpa dibatasi lokasi atau jarak. Apalagi, munculnya social media semakin mengarahkan orang untuk berinteraksi lebih intens dengan menggunakan aplikasi-aplikasi social media yang semakin diperlengkap dengan aneka fitur yang mendukung.

Sayangnya, peningkatan penggunaan social media saat ini mengalami pergeseran fungsi. Jika semula orang menggunakan social media sebagai alat komunikasi, saat ini kebanyakan menggunakannya sebagai suatu cara untuk mengobati rasa penasaran terhadap kehidupan orang lain.

Inilah kemudian yang memunculkan gangguan kejiwaan yang dikenal dengan Fear of Missing Out atau disingkat menjadi FOMO. Pada intinya, FOMO adalah rasa takut ketinggalan informasi penting atau tidak terlibat dalam hal-hal penting yang terjadi di social media.

Faktanya, kecenderungan terjadinya FOMO diyakini karena adanya peningkatan penggunaan social media seperti Facebook, Path, Instagram, Twitter, dan lain sebagainya. Ironisnya,  penggunaan social media yang berlebihan ini mengarahkan pada munculnya perilaku kecanduan yang bahkan tidak disadari oleh penderitanya sendiri.

Ketakutan akan kehilangan informasi penting di social media  umumnya ditandai dengan kebiasaan mengutak-atik telepon seluler setiap waktu hanya karena ingin mengecek notifikasi di social medianya. Dan tentu saja jika hal ini tidak segera diatasi akan berpengaruh pada kesehatan jiwa dan kehidupan sosial mereka yang sudah terkena sindrom FOMO tersebut.

Lantas, bagaimana caranya supaya nggak terikat FOMO? Simak beberapa tips yang bisa kamu lakukan agar bisa lepas dari kecanduan social media dan kembali fokus pada dunia nyata.

Cara Untuk Lepas Dari Kecanduan Social Media

 

Batasi penggunaan social media

Sebenarnya yang bisa melepaskan ikatan FOMO dalam kehidupanmu, ya kamu sendiri. Itulah kenyataan yang harus kamu hadapi jika ingin terbebas dari situasi yang sebenarnya tidak menyenangkan ini.

Jadi, jika ingin terlepas dari jeratan FOMO setidaknya usahakan untuk membuat komitmen pada diri sendiri terkait dengan batasan penggunaan social media.

Meski sulit, mulailah dengan menetapkan waktu penggunaan misalnya hanya pada saat jam istirahat dan pulang kerja saja. Sedangkan di jam lainnya, fokuskan pada pekerjaan dan kehidupan nyatamu.  Jika komitmen ini benar-benar dilaksanakan yakinlah akan dapat membantu untuk melepaskan diri dari cengkraman FOMO yang mengikatmu.

Baca Juga: Detoks Digital, Buat Kita Yang Hampir Nggak Bisa Lepas Dari Smartphone

Fokuslah pada kehidupan nyata

Banyak yang nggak menyadari bahwa kehidupan di social media umumnya menawarkan dunia fantasi yang jauh dari realita kehidupan. Hal itu terkadang membuat mereka merasa ketagihan untuk terus-menerus hidup dalam dunia jejaring sosial. Bahkan di saat mereka sedang berada di tempat ramai sekalipun atau sedang berkumpul dengan keluarga atau kerabat.

Karenanya, luangkan waktu untuk lebih fokus pada interaksi di dunia nyata dan jalinlah komunikasi secara langsung dengan orang-orang yang ada di sekitarmu.

Sibukkan diri dengan berbagai aktivitas

Dengan menyibukkan diri dengan berbagai aktivitas, dijamin akan sangat membantu untuk mengurangi rutinitas mengecek notifikasi atau kabar terbaru yang ada di timeline. Apalagi jika aktivitas tersebut dapat membuat kita dapat  bersosialisasi dengan orang lain di sekitar kita.

Hapus semua aplikasi social media di ponselmu

Terlihat menyeramkan nggak sih? Tapi cara ini sebenarnya sangat efektif dan cepat untuk mengurangi ketergantungan pada social media dan lebih fokus pada dunia sekitarmu. Sebagai tahapan awal kamu bisa mulai menghapus satu aplikasi yang paling jarang digunakan, lalu bertahap pada aplikasi yang paling sering dipakai.

Percayalah dunia nggak akan berakhir dengan kamu menghapus aplikasinya di ponsel kok. Kamu masih bisa mengaksesnya melalui laptop atau personal komputer. Tapi sudah pasti lebih terbatas dan tidak bisa sesering saat menggunakan handphone.

Meski sepertinya perkembangan teknologi saat ini seakan-akan mengijinkan manusia untuk terus terlibat dalam kehidupan digital, tetapi yang terpenting dilakukan adalah menemukan cara-cara positif untuk menumbuhkan kesadaran bahwa kebahagiaan itu ada di dalam kehidupan nyata. Bukan dengan cara memantau kehidupan orang lain yang nantinya justru akan membuat diri kita terjebak dalam ketakutan yang tidak perlu.

Related Articles