Awet Muda dan Panjang Umur Bonus Langsing Berkat Diet Flexitarian

Jul 12, 2018 by carmelw

Ada banyak cara yang dilakukan orang demi mendapatkan berat badan ideal dan juga tubuh yang lebih sehat, salah satunya adalah dengan melakukan diet atau perencanaan pola makan seperti diet karbo, diet vegetarian, dan lain sebagainya.

Di antara berbagai jenis diet yang sering dilakukan banyak orang, diet flexitarian merupakan salah satu bentuk pola makan di mana pelakunya masih bisa mendapatkan manfaat layaknya vegetarian sambil tetap mengonsumsi daging. Apa itu diet flexitarian? Cari tahu barengan, yuk.

Apa itu diet flexitarian?

flexitarian
Sumber: pexels.com

Flexitarian berasal dari kata flexibel dan vegetarian. Kata yang sudah terdaftar dalam Kamus Oxford ini merupakan salah satu bentuk pola makan yang menitikberatkan pada makan makanan yang berasal dari tanaman dan mengurangi konsumsi daging atau ikan. Diet yang diciptakan oleh Dawn Jackson Blatner, seorang ahli diet dan juga penulis buku The Flexitarian Diet ini cocok bagi mereka yang ingin mengurangi asupan kalori dan mendapatkan tubuh yang lebih sehat dengan mengurangi konsumsi daging tetapi masih mendapatkan manfaat kesehatan yang hampir sama dengan vegetarian sesungguhnya.

Baca Juga: Diet Pescatarian, Turun Berat Badan Dengan Rajin Makan Ikan

Diet flexitarian diyakini dapat memperpanjang usia

flexitarian
Sumber: pexels.com

Blatner meyakini bahwa diet yang mengharuskan pelakunya untuk mengonsumsi 1500 kalori yang dibagi ke dalam tiga makan besar dan dua kali menikmati camilan ini dapat menurunkan risiko kesehatan terutama bagi penderita penyakit jantung, kanker dan diabetes, serta dapat memperpanjang hidup sekitar 3,6 tahun dibandingkan mereka yang tidak mengikuti diet ini. Sebab, jika dibandingkan dengan seorang vegetarian yang sama sekali tidak mengonsumsi daging, seorang flexitarian tetap akan mendapatkan manfaat dan nutrisi penting bagi tubuh seperti protein, vitamin B12, dan zat besi yang sangat tekonsentrasi pada daging.

Cara kerja diet flexitarian

flexitarian
Sumber: pexels.com

Secara umum, diet flexitarian membagi makanan ke dalam lima kelompok utama, yakni daging-dagingan, buah dan sayuran, gandum, susu, gula dan rempah. Adapun pembagian kalori pada diet yang disarankan untuk dilakukan selama lima minggu dalam satu periode ini adalah 300 kalori untuk sarapan, 400 kalori untuk makan siang, 500 kalori untuk makan malam, dan 150 kalori untuk masing-masing camilan.

Sementara itu, bagi mereka yang ingin mengurangi berat badan, dapat menurunkan porsi makan menjadi 1200 kalori atau menaikkannya menjadi 1800 kalori asalkan harus dapat menaikkan porsi saat sarapan. Selain itu, sangat disarankan untuk memperbanyak konsumsi sayuran dan buah-buahan serta mengurangi porsi daging dan membiasakan diri untuk berolahraga selama 30 menit selama lima hari dalam seminggu selama menjalankan pola makan ini.

Bagi pemula disarankan untuk mengonsumsi daging sebanyak 750 gram yang dibagi dalam empat kali makan dalam seminggu. Sedangkan pelaku diet yang lebih ahli hanya diperbolehkan makan daging yang jumlahnya tidak melebihi 250 gram untuk dua kali makan dalam seminggu.

Saat menjalankan pola makan ini, para flexitarian perlu memastikan mereka terhindar dari risiko anemia defisiensi besi saat membatasi mengonsumsi daging dengan meningkatkan asupan makanan nabati seperti kacang kedelai, buncis, lentil, dan semua sumber zat besi yang dibutuhkan oleh tubuh.

Diet flexitarian untuk meningkatkan kesehatan

flexitarian
Sumber: pexels.com

Diet flexitarian yang flexibel ini sangat cocok dilakukan oleh mereka yang memiliki kelebihan berat badan, para penderita penyakit kronis seperti tekanan darah tinggi, kolestrol tinggi, diabetes tipe 2, penyakit jantung, dan bagi yang memiliki riwayat keluarga dengan masalah kesehatan metabolik serta bagi mereka yang tidak bisa berkomitmen menjadi vegetarian.

Diet yang dikategorikan terjangkau ini diyakini dapat membantu siapa saja yang ingin mengelola berat badan dan meningkatkan kesehatannya dengan cara yang fleksibel tanpa perlu berkomitmen untuk menjadi seorang vegetarian.

Baca Juga: Apakah Benar Makan Sushi Aman dan Sehat Bagi Tubuh?

Namun, diet flexitarian tidak bisa dilakukan secara sembarangan dilakukan terutama bagi mereka yang memiliki riwayat kekurangan zat besi atau jenis anemia lainnya, alergi atau intoleransi makanan yang membatasi asupan makanan non-daging, serta bagi yang memiliki riwayat gangguan makan. Konsultasikan terlebih dahulu dengan dokter ahli sebelum menjalankannya.

Related Articles