MSG vs Garam, Mana Yang Lebih Baik Dikonsumsi?

Jan 26, 2018 by carmelw

Selama ini banyak di antara kita yang menghindari pemakaian MSG demi alasan kesehatan. Sebaliknya, kita justru lebih memilih menggunakan garam yang dianggap sebagai secara alami dapat meningkatkan rasa pada masakan. Sebenarnya antara MSG vs garam, manakah yang lebih aman digunakan?

Perbandingan MSG vs Garam

 

Fakta tentang MSG

Monosodium glutamat atau MSG yang selama ini lebih populer dengan sebutan micin, merupakan senyawa yang mengandung monosodium dan asam amino glutamat. MSG pertama kali ditemukan di Jepang dan kemudian dipatenkan hak ciptanya oleh perusahaan Ajinomoto pada tahun 1909. Awalnya, pada penelitian awal ditemukannya MSG, senyawa ini  memang dibuat dari rumput laut. Namun, seiring dengan terbatasnya ketersediaan rumput laut, akhirnya penyedap rasa yang kita kenal saat ini terbuat dari fermentasi tetes tebu ataupun singkong.

Fermentasi yang dilakukan pada bahan baku pembuatan vetsin tersebut dilakukan oleh bakteri Brevi bacterium lactofermentum yang kemudian menghasilkan asam glutamat. Asam glutamat inilah yang nantinya akan digunakan untuk meningkatkan rasa gurih umami seperti daging karena kandungan proteinnya yang tinggi.

Baca Juga: Sering Dikaitkan dengan Pemicu Kebodohan, Begini Fakta Micin Sebenarnya

Fakta tentang garam dapur

Dibandingkan dengan penyedap rasa, banyak orang yang lebih memilih menggunakan garam meja sebagai bumbu penyedap masakan. Tentu saja hal ini tidak terlepas dengan peranan garam sebagai salah satu bumbu dapur yang dianggap paling penting dan tidak pernah terlewat untuk digunakan di berbagai jenis masakan.

Secara kimiawi, garam meja mengandung natrium klorida yang memang merupakan zat yang dibutuhkan tubuh. Garam dapur pada umumnya diperlukan terutama untuk mengontrol tekanan dan volume darah serta menjaga kadar cairan dalam tubuh.

Dalam sehari, takaran maksimal yang dianjurkan untuk mengkonsumsi garam dapur adalah tidak lebih dari 6 gram atau setara dengan 1 sendok garam meja. Jika dikonsumsi secara berlebihan, garam dapur justru dapat meningkatkan tekanan darah tinggi yang berisiko menimbulkan gagal jantung, osteoporosis, kanker perut, dan gangguan ginjal.

Masalahnya, natrium yang terkandung dalam garam tidak hanya ditemukan pada garam dapur saja, tetapi seringkali terdapat dalam berbagai makanan olahan, cemilan, dan makanan kemasan lainnya, sehingga seringkali tanpa sadar tubuh mengkonsumsi garam melebihi takaran yang semestinya.

MSG vs garam, mana yg lebih aman?

Sementara itu, untuk memperkuat rasa masakan, kebanyakan masyarakat lebih memilih mengandalkan penggunaan garam daripada MSG yang digembor-gemborkan dapat meningkatkan risiko terjadinya kanker.

Padahal, rasa asin dan gurih pada MSG hanya mengandung sepertiga natrium yang ditemukan dalam garam meja. Faktanya, menggabungkan MSG dan garam dalam proses memasak dapat meningkatkan rasa bahkan bisa dijadikan pilihan untuk mengurangi kebutuhan garam hingga 20 – 40 % .

Selain itu, yang nggak banyak orang tahu, tubuh manusiapun memiliki cara yang sama dalam mencerna glutamat yang didapatkan baik dari makanan maupun dari MSG. Kandungan glutamat sebenarnya secara alami telah terdapat dalam dalam berbagai sumber makanan seperti daging sapi, unggas, susu, dan sayuran. Sehingga dapat dikatakan kandungan glutamat dalam MSG sama pentingnya dengan yang ada di dalam makanan

Jadi, tidak seperti yang selama ini ditakutkan banyak orang, penggunaan penyedap rasa sebenarnya justru dapat menjadi alternatif pengganti garam yang aman bagi tubuh. Namun, dalam penggunaannya memang harus dibatasi dan disesuaikan dengan kondisi tubuh sehingga tidak berlebihan, sebab MSG pun jika dikonsumsi secara berlebihan dapat menimbulkan efek samping berupa nyeri dada, mati rasa, keringat berlebih, kulit kemerahan, terutama bagi orang yang sensitif akan kandungan yang ada di dalamnya.

Baca Juga: Berbagai Mitos Tentang Makanan Yang Dianggap Buruk

Related Articles