Menghapus Jejak Masa Lalu dengan Rebound Relationship, Yay or Nay?

by :

Siapa yang tidak sedih jika harus berpisah dengan kekasih, apalagi jika perpisahan itu disebabkan oleh hal –hal yang terjadi diluar hubungan itu sendiri, misalnya adanya orang ketiga, hubungan tanpa restu orangtua, dan sebagainya.

Membuang kisah masa lalu dan berusaha meninggalkan kenangan indah bersama si dia memang tak mudah. Rasa cinta yang terlanjur tergores tak begitu saja lenyap. Apalagi, waktu yang dilalui belum terlalu lama. Namun, tuntutan waktu yang harus terus berjalan tentu membuat dirimu harus berusaha bangkit dan melupakan dia. Banyak cara yang bisa dilakukan untuk mengalihkan rasa  sedih karena putus cinta. Namun setiap orang memiliki cara yang berbeda-beda untuk menghadapi dan menjalaninya.

Ada yang mendadak suka berpergian atau travelling, ada yang tiba-tiba suka belanja dan makan, namun ada juga yang akhirnya mencari pelarian. Pelarian dalam fase ini, adalah mencari sosok pendamping baru yang dianggap merupakan solusi terbaik yang seringkali  ditempuh seseorang.

Pelarian atau rebound relationship adalah hubungan dengan pasangan baru yang terbentuk tidak lama dari waktu setelah hubungan lama berakhir. Walau tidak semuanya, hubungan ini seringkali dianggap sebagai bentuk pelarian yang digunakan seseorang untuk mengatasi rasa sakit akibat kehilangan, kesepian, dan penolakan yang dirasakan pasca kandasnya sebuah hubungan

Tidak buruk juga sih melakukan rebound relationship, tapi ada beberapa hal dibawah ini yang tetap harus diwaspadai jika kamu terjebak dalam rebound relationship. Alih – alih akan membuatmu move on, hubungan ini malah membuat lukamu semakin dalam akibat melupakan rambu-rambu berikut ini.

Rambu-Rambu Rebound Relationship Untuk Menghapus Masa Lalu

rebound relationship untuk menghapus masa lalu img
Sumber: stocksnap.io

Memahami tujuan

Hal  terpenting yang perlu diketahui adalah bahwa kamu menyadari jika hubungan ini tidak didasarkan atas cinta, tetapi pelarian. Setidaknya, pastikan kamu mengenali perasaanmu  sendiri.

Kestabilan emosi

Sadari bahwa, emosimu terkadang masih labil akibat luka yang belum benar-benar sembuh. Kenangan masa lalu yang masih membekas seringkali mempengaruhi seseorang untuk membangun hubungan yang sehat dan ikatan emosi yang cukup kuat dengan pasangan baru. Hal ini patut diwaspadai karena akan menjadi masalah dalam hubungan yang baru.

Ketahui batas-batasnya

Biasanya rebound relationship ini terjadi ketika dalam fase kamu merasa butuh diperhatikan. Sebaiknya tidak  terlalu berlebihan dalam menuntut perhatian dari kekasih “pelarianmu” secara emosional maupun fisik. Karena pada dasarnya hubungan ini didasari oleh pemuasan emosi yang muncul akibat tidak ingin larut dalam sakit akibat putus cinta. Namun, tidak dipungkiri juga bahwa hubungan ini bisa juga bertahan lama. Namun hal itu butuh perjuangan dan pengorbanan dari kedua belah pihak. Sikap yang dibutuhkan adalah saling menerima dan memaafkan apa yang terjadi sebelumnya.

Munculnya rasa kurang nyaman

Cepat atau lambat, kebanyakan dari mereka menjadi pasangan pelarian  akhirnya merasa tidak nyaman karena menyadari posisi mereka sebagai pelarian. Rasa tidak nyaman yang membuat mereka mulai mempertanyakan hubungan yang ada dan tak jarang akhirnya memutuskan untuk mengakhiri hubungan.

Jangan membandingkan

Alih alih berusaha membuka diri untuk cinta yang baru, kamu selalu terjebak oleh membandingkan pasangan yang baru ini dengan sang mantan. Hati – hati lho, kalau sudah begini,  sinyal untuk tidak bisa melanjutkan hubungan lebih jauh mulai muncul.

Menjalani rebound relationship, sebenarnya juga memberikan banyak keuntungan. Paling tidak, akan membuatmu lebih mudah melupakan masa lalu, mantan dan bisa memunculkan rasa diinginkan lagi, membangkitkan adanya rasa keterlibatan dan memunculkan rasa percaya diri lagi.