Mengapa Tak Boleh Memberikan Angpao Dengan Nominal Ganjil?

Feb 13, 2018 by carmelw

Bukan hanya acara makan bersama dan pertunjukan Barongsai saja yang menjadi kekhasan perayaan Imlek. Memberi hadiah angpao dalam amplop merah kepada anak-anak pun menjadi tradisi yang juga tidak boleh terlewat di moment pergantian tahun masyarakat Tionghoa tersebut.

Sejarah dan makna pemberian angpao pada perayaan Imlek

Tradisi memberikan amplop merah dibangun berdasarkan legenda Tahun Baru China. Salah satu kisah yang paling populer menceritakan tentang seekor setan yang disebut “Sui” yang kerapkali meneror anak-anak saat mereka tidur di malam tahun baru. Karenanya, agar anak-anak tetap terjaga sepanjang malam, para orang tua lalu memberikan delapan koin kepada setiap anak untuk dimainkan.

Hingga pada suatu tahun baru, seorang anak tidak dapat menahan kantuk dan akhirnya tertidur dengan koin yang terbungkus kertas merah di bantalnya. Saat Sui muncul ia tidak berhasil menyentuh anak itu, sebab koin-koin yang sebenarnya adalah jelmaan delapan dewa tersebut menghasilkan cahaya yang kuat dan berhasil mengusir setan itu.

Akhirnya, seluruh penduduk desa yang mengetahui peristiwa itu menganggap bahwa koin berbungkus kertas merah yang diberikan kepada anak-anak pada setiap malam terakhir menjelang pergantian tahun dapat menghalau dan melindungi anak-anak dari serangan setan.

Sejak saat itulah tradisi pemberian uang yang terbungkus kertas merah atau yang disebut dengan Ya Sui mulai terbentuk. Harapannya. anak-anak yang menerimanya akan dapat melewati setahun lagi usianya dengan selamat dan sejahtera.

Aturan pemberian angpao saat perayaan Imlek

kasih angpao img
Sumber: shutterstock.com

Meski memiliki makna mendoakan kebahagiaan, tetapi pemberian angpao tidak boleh dilakukan secara sembarangan. Ada aturan-aturan yang harus diketahui sehingga tetap membawa keberuntungan bagi penerimanya. Berikut ini aturan pemberian angpao saat perayaan Imlek yang harus dipatuhi sesuai dengan tradisi yang berlaku:

Nominal uang angpao tidak boleh mengandung angka empat

Sebenarnya tidaklah penting berapa nominal yang diberikan, tinggal menyesuaikan dengan kemampuan sang pemberi. Namun yang pasti, pemberian uang tidak boleh mengandung angka empat, misalnya Rp4.000 atau Rp 40.000. Sebab, dalam Bahasa Mandarin pengucapan angka empat terdengar kata yang merujuk pada kemarian. Sedangkan nominal yang dianjurkan adalah angka delapan yang dianggap akan membawa keberuntungan dan kemakmuran.

Hindari pemberian angpao dengan nominal ganjil

Di samping melarang untuk memberikan uang angpao dalam nominal yang mengandung angka empat, tradisi ini juga melarang pemberian uang dalam nominal ganjil yang diyakini merupakan angka sial yang harus dihindari.

Penerima angpao

Dalam tradisi Tionghoa, yang wajib dan berhak memberikan angpao adalah orang yang telah menikah karena dianggap telah mapan secara ekonomi. Selain itu bagi mereka yang telah berusia 40 tahun tetapi belum menikah tetap diwajibkan memberikan angpao karena telah dianggap dewasa.

Sedangkan yang sudah pasti mendapatkan angpao adalah anak-anak dan orang yang sudah dituakan. Pemberian menjadi simbol tanggung jawab terhadap sesama.

Amplop berwarna merah

Amplop yang digunakan sesuai dengan nama dan maknanya, sebaiknya memang berwarna merah dan bertuliskan kata-kata yang menyiratkan keberuntungan dan kemakmuran.

Hindari pemberian amplop berwarna putih yang mengandung makna kesedihan dan biasanya digunakan saat pemakaman.

Meski akhir-akhir ini telah banyak bermunculan angpao digital yang bisa ditransfer melalui aplikasi smartphone, tetapi memberikan secara langsung kepada penerimanya masih tetap menjadi tradisi dan belum luntur hingga saat ini. Bukankah makna lain dari perayaan Imlek adalah kebersamaan dan bersatunya keluarga? Selamat tahun baru dan selamat meraih keberuntungan sepanjang tahun. Gong Xi Fa Cai.

Related Articles