Bukan Cuma Meriah, Ada Doa di Setiap Meriahnya Pertunjukan Barongsai

by :

Imlek atau yang biasanya juga disebut dengan Sin Cia sudah semakin dekat. Aneka pernak-pernik dan dekorasi yang didominasi warna merah dan emas sudah mulai terasa di beberapa sudut kota dan membuat suasana tampak meriah. Imlek memang sarat dengan simbol dan tradisi, tetapi di samping semua kemeriahan yang ada, pertunjukan Tarian Singa atau Barongsai merupakan salah satu kesenian yang selalu ditunggu-tunggu.

Tahu nggak, Girls kalau kesenian tradisi masyarakat Tionghoa ini ternyata lebih dari sekedar tontonan biasa dan punya sejarah yang menarik di balik setiap tariannya. Simak terus, yuk.

Barongsai telah ada sejak abad ke-tiga Sebelum Masehi

Barongsai atau Tarian Singa merupakan salah satu kesenian tradisional Tionghoa yang sudah ada sejak zaman dinasti Nan Bei tahun 420-589 Masehi. Saat itu, seorang panglima perang dari  pasukan Raja Song Wen Di yang bernama Zhong Que membuat tiruan boneka singa dan berhasil mengusir mundur pasukan Raja Fan Yang yang hendak menguasai kerajaan. Keberhasilan itulah yang membuat tarian tersebut terus dimainkan dan terus melegenda hingga saat ini.

Barongsai diyakini memiliki kekuatan mistis mengusir roh jahat

barongsai
Sumber: shutterstock.com

Banyak orang tidak mengetahui bahwa kesenian ini punya makna yang lebih dalam daripada sekedar tontonan biasa. Kata “barongsai’ sendiri merupakan hasil dari akulturasi budaya Tionghoa dan Indonesia, yang memadukan kata Barong yang berasal dari Bahasa Bali dengan kata shi atau sai yang berarti singa pada Bahasa Tionghoa. Sai juga dapat diartikan mengandung simbol keberanian dan dipercayai memiliki kekuatan mistis untuk mengusir hal-hal buruk di sekitar.

Karenanya, memainkan atraksi ini pada saat pergantian tahun diharapkan dapat mengusir aura-aura buruk yang bisa membawa petaka sehingga didapatkan kehidupan yang lebih baik seperti kesehatan, kemakmuran, murah rejeki, dan keberuntungan di sepanjang tahun berikutnya.

Barongsai versi Nian yang paling populer dimainkan

Kesenian barongsai yang dimainkan oleh sekelompok penari yang berjumlah sekitar 15 orang dan dimeriahkan dengan alat musik simbal (cai-cai), gong (nong), serta tambur. Sebenarnya, tarian barongsai memiliki banyak versi legenda yang berbeda, tetapi yang paling populer dan sering dimainkan adalah versi Nian.

Legenda versi Nian menceritakan tentang seekor singa (barongsai) yang mampu mengusir monster (Nian) yang acapkali mengganggu hewan ternak, memakan anak-anak, serta merusak hewan ternak sehingga monster tersebut kalah dan tidak berani lagi mengganggu penduduk. Sejak saat itu lah masyarakat setempat bersama-sama membuat kostum barongsai sebagai simbol kemenangan dan kebahagiaan karena telah berhasil mengusir hal buruk di sekitarnya.

Delapan elemen dasar dalam kesenian Barongsai

Sebenarnya, kesenian tradisional Tionghoa ini terdiri dari dua karakter utama, yaitu Singa Utara yang biasanya tampil dengan kostum singa bersurai ikal dan berkaki empat dengan yang bertingkah lincah serta penuh dinamika. Sedangkan Singa Selatan biasanya digambarkan dengan kostum bersisik dan berkaki dua serta terkenal dengan gerakan kepalanya yang keras dan melonjak-lonjak mengikuti tabuhan gong dan tambur.

Meski terdiri dari berbagai cara memainkan barongsai, tetapi sebenarnya semua versi memiliki pola dasar atraksi yang sama yaitu berdasarkan ke-delapan elemen dasarnya. Ke-delapan elemen dasar yang biasanya ditampilkan yaitu: tidur, membuka, bermain, pencarian, berkelahi, makan, penutup, dan kembali tidur.

Semuanya gerakan barongsai ini dapat dikreasikan menurut versi masing-masing kelompok pemain. Yang pasti, dalam setiap pertunjukkan akan ada yang dikenal dengan istilah Lay See yang menggambarkan gerakan singa memakan amplop berisi uang yang melambangkan hadiah bagi sang singa.

Dalam perkembangannya saat ini, barongsai banyak dipadukan dengan beladiri wushu yang menjadikan gerakannya menjadi indah dan seirama dengan musik yang ditabuh. Mangkanya, nggak heran banyak yang selalu menantikan pertunjukan ini setiap tahunnya. Gimana dengan kamu, Girls?